Strategi Pengendalian Banjir Samarinda, Andi Harun: Tidak Semua Harus Berbasis Proyek
KLIKSAMARINDA – Banjir masih menjadi tantangan utama pembangunan di Kota Samarinda, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), sehingga membutuhkan strategi ekstra. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus berupaya memperkuat komitmen dan menggulirkan pelbagai program dalam penanganan dan pengendalian banjir secara menyeluruh dan terukur.
Dalam upaya merumuskan strategi pengendalian banjir Samarinda secara menyeluruh dan terukur, Wali Kota Andi Harun, menegaskan pentingnya solusi berbasis data teknis dan saintifik.
Hal ini disampaikannya saat menghadiri Paparan Rencana Penanggulangan Banjir tahun 2025-2026 oleh Dinas PUPR, Rabu 25 Juni 2025, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota.
“Bagian-bagian SDA (Sumber Daya Air) harus membuat perencanaan yang betul-betul berbasis data teknis dan saintifik yang lengkap. Kita tidak bisa asal membangun,” ujar Wali Kota Andi Harun.
Wali Kota juga menekankan perlunya setiap bidang di Dinas PUPR menyusun buku induk perencanaan yang terstruktur. Hal ini penting agar arah pembangunan bisa lebih terfokus dan prioritas program dapat ditentukan secara tepat.
Menurutnya, tidak semua solusi harus berbentuk proyek (fisik). Penanganan jangka pendek perlu segera dilakukan karena banjir bisa terjadi kapan saja.
“Kita harus tahu mana yang dikerjakan duluan. Tidak semua harus berbasis proyek. Yang penting sekarang, fokus dulu pada penanganan jangka pendek karena banjir dan hujan bisa datang kapan saja tidak menunggu kita siap,” ungkap Andi Harun.
Acara ini turut dihadiri Sekda Hero Mardanus, Asisten II, kepala perangkat daerah seperti PUPR, BPBD, BPKAD, BAPPERIDA, camat, lurah, serta anggota TAPD dan TWAP.
Dalam kesempatan tersebut, Dinas PUPR memaparkan rencana dan strategi pengendalian banjir Samarinda untuk 2025–2026. Pendekatan yang digunakan berbasis wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) dan dibagi menjadi tiga zona:
Pertama Zona Hulu: Konservasi lahan, pembangunan waduk dan bendungan (Lempake, Pampang, Sempaja).
Kedua Zona Tengah: Normalisasi sungai, kolam retensi (Vorvo, Air Hitam, Bengkuring), dan pengendalian tata guna lahan.
Ketiga Zona Hilir: Peningkatan kapasitas drainase dan pembangunan pintu air Karangmumus.
Program strategi pengendalian banjir Samarinda ini terbagi ke dalam tiga tahapan waktu:
* Jangka Pendek: Perbaikan drainase, sumur resapan, edukasi, normalisasi sungai.
* Jangka Menengah: Fokus pembangunan bendungan dan konservasi lahan hingga pengendalian erosi.
* Jangka Panjang: Pengelolaan menyeluruh DAS dan sistem pompa banjir serta mengatasi pasang surut Sungai Mahakam.
Paparan strategi pengendalian banjir Samarinda ini menjadi pijakan awal strategi terpadu pengendalian banjir di Samarinda. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mempercepat realisasi solusi nyata atas persoalan banjir Samarinda. (*)




